Sarip Tambak Oso

18 Jun

Tulisan ini saya sertakan dalam lomba menulis  cerita rakyat.

Dan saya kalah. Akhirnya saya post kan di blog saya saja.

selamat menikmati pembaca..

sumber:  google

sumber: google

 

SEBUAH CERITA RAKYAT ASAL DESA GEDANGAN SIDOARJO JAWA TIMUR

SARIP TAMBAK OSO

 

 Sarip… durung wayahe mati nak……

(terjemah: sarip belum waktunya mati nak)

 

Sariip….sariippp….

Tangio lhe..

(Terjemah: sarip..sarip… bangun nak…)

Ibu sarip berteriak menyebut nama anaknya. Seketika itu juga sarip yang berlumuran darah dan sudah mati , hidup kembali. Sarip kebingungan  melihat ibunya menangisi dirinya.

“ Ibu ada apa…kenapa kau menangis…” Sarip bertanya pada ibunya.

“Tadi kau mati sarip, terbunuh. “ ujar ibunya.

Ibunya dengan penuh kasih sayang mengusap kepala sarip. Sarip adalah seorang anak yang menghormati dan menyayangi ibunya. Begitu juga sebaliknya ibunya sangat mencintai anaknya. Jeritan suara ibu sarip memanggil nama anak kesayangannya itu mampu mengembalikan raga dan jiwa yang telah mati kembali ke jasadnya. Sarip anak yang patuh, tidak pernah melawan ibunya. Meskipun berhati keras tapi dia tidak pernah menyakiti hati ibunya. Ibunya melakukan apapun untuk menghidupi kehidupan mereka. Baginya yang  terpenting Sarip dapat cukup makan dan tidur nyenyak. Apalagi ayahnya telah lama mati sejak ia masih kecil. Kehidupan mereka yang miskin , hidup di jaman penjajahan kolonial Belanda menambah panjang penderitaan. Dimana seringkali keadilan bagi rakyat kecil sangat sulit didapatkan.

Begitulah sarip sang pendekar tambak oso, mempunyai kekuatan tidak akan mati meskipun dibunuh beribu kali. Dia akan hidup kembali. Apa karena kasih sayang ibu dan anak yang abadi ini yang membuat sarip tidak akan mati jika ibunya tidak mati. Atau bisa jadi, konon kekuatan Sarip ini berasal dari ayah Sarip.

Dikisahkan, ayahnya Sarip jago bela diri. Konon katanya, beliau masih keturunan salah seorang pejuang perang Diponegoro. Ketika Sarip masih berada didalam kandungan. Ayahnya pergi melakukan semedi. Ayahnya pamit kepada Ibunya Sarip bahwa dia akan melakukan pertapaan dalam waktu yang lama di sebuah Goa. Konon goa tersebut berada ditempat basah dan bertanah kering.

“Jaga calon anak kita bu”, Ujar ayah Sarip. Waktu berlalu. Setelah sekian lama ayah Sarip kembali. Tetapi tidak hanya bertangan kosong, ayah Sarip membawa sebongkah tanah. Sebongkah tanah  kecil berwarna merah atau lemah abang itu tidak sekedar tanah biasa tetapi mempunyai kekuatan. Selanjutnya tanah merah itu dibelah dua oleh ayah sarip, setengah diberikan pada sarip dan setengahnya lagi diberikan kepada ibu sarip untuk dimakan.

“Kau makan setengah tanah merah ini bu” Ujar ayah Sarip.

“Untuk apa ini dimakan pak?” , Tanya Ibu sarip

Kemudian ayah Sarip bercerita bahwa lemah abang ini yang akan menolong Sarip. Sarip tidak akan mati meskipun dibunuh berkali kali selama ibunya masih hidup dan selama ibunya memanggil nama Sarip maka Sarip akan bangkit kembali dari kematiannya. Dari sinilah kekuatan Sarip berasal.

Sarip jago bela diri, pemuda yang berasal dari dusun tambak oso ini terkenal dengan panggilan, Sarip Tambak Oso. Tambak Oso adalah sebuah dusun di Desa Gedangan Sidoarjo. Ada dua jagoan yang berasal dari dusun yang wilayahnya dibatasi  sungai ini. Di wilayah sungai bagian timur Wetan Kali terkenal dengan jagoannya bernama Sarip. Sedangkan di sungai bagian barat Kulon Kali dikuasai jagoan yang bernama Paidi.

Sarip sangat dicintai masyarakat sekitarnya. Dia adalah sosok pemberani yang secara terang terangan menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Seseorang yang simpati , religius, suka menolong rakyat kecil dan patuh terhadap ibunya ini merupakan musuh kumpeni Belanda di masa itu. Sarip selalu menjadi target operasi polisi Belanda atau Opas.

Sarip Berwatak keras karena dia harus hidup dalam penjajahan kolonial Belanda yang selalu menindas dan mencari keuntungan dari rakyat tanpa memikirkan apakah rakyat kecil itu kesusahan atau sengsara. Dia di-cap sebagai pembangkang oleh pemerintahan saat itu. Pemuda yang sulit diatur dan tidak bisa mengikuti aturan.

Sarip adalah tokoh Robin Hood Desa Gedangan, Seperti halnya si Pitung. dia adalah pencuri ulung yang harta curiannya dibagikan kepada rakyat miskin. Anak janda miskin ini cukup membuat keresahan orang yang memiliki harta banyak, kuatir rumahnya akan diobrak abrik Sarip.

Target pencurian Sarip adalah rumah orang kaya Belanda, Saudagar kikir, para lintah darat penyengsara rakyat kecil, dan Orang yang memiliki harta banyak dari hasil menindas rakyat. Semua barang diambil Sarip, segala sesuatu yang bisa dijadikan uang akan dicuri Sarip. Kemudian uang hasil pencurian ini akan dia bagi-bagikan kepada rakyat miskin. Sarip selalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Saat itu, begitu banyak rakyat miskin yang hidup sulit, jangankan untuk membeli barang, untuk makan saja mereka sangat kekurangan. Tenaga mereka diperas, harta mereka berupa aset tanah, lahan pertanian, kebun, semua diambil Belanda beserta kaki-tangannya yang biasanya menduduki jabatan pemerintahan di saat itu. Harta mereka diambil dengan segala tipu muslihat yang menyebabkan mereka harus memberikannya secara sukarela maupun diganti dengan harga yang sangat tidak wajar. Tetapi apa yang bisa rakyat kecil lakukan saat itu? . Tidak ada keadilan.

Sarip yang suka mencuri ini dianggap pencuri budiman oleh masyarakat kecil yang miskin. Keadaan yang serba susah dan kekurangan membuat rakyat kecil merasa mempunyai seorang pahlawan yang membantu mereka dari kesulitan mencari makan dan melindungi serta berpihak terhadap mereka. Rakyat kecil cenderung diam dengan semua tingkah laku Sarip. Rakyat cenderung melindungi setiap tindakan Sarip sehingga Sarip sangat sulit tertangkap Opas.

Selain itu Sarip juga sering dianggap opas (polisi Belanda) berbuat keonaran dengan memprovokasi masyarakat agar berani menentang Belanda untuk melawan pemerintahan dengan menentang kebijakan Belanda yang suka menyusahkan masyarakat kita. Penderitaan rakyat kecil yang miskin dan tertindas yang mana mereka diharuskan membayar sejumlah pajak. Sarip menaruh perhatian pada rakyat yang tertindas dan menderita menjadi korban pemungutan pajak oleh belanda maupun lintah darat. Bertambahlah deretan alasan perburuan Sarip menjadi target operasi Belanda.

Pada suatu hari Sarip memutuskan untuk pergi merantau dari Dusun Tambak oso. Dusun yang menjadi tempat dia selama ini hidup dan berjuang bagi rakyatnya. Desa yang terletak di  sungai bagian timur ini dia tinggalkan dengan berat hati demi mencari penghidupan yang lebih baik. Sarip pergi dengan meninggalkan ibu yang sangat dikasihi. Dia berjanji pada ibunya akan kembali dan selalu menjadi orang baik pembela kebenaran dan keadilan dimanapun dia berada. Ibunya mengikhlaskan kepergian anak kesayangan untuk mencari rezeki di tempat lain. Ibunya berfikir mungkin ini jalan terbaik untuk Sarip. Karena jujur, ibunya sering merasa was-was dan kuatir dengan keselamatan Sarip. Meskipun Sarip tidak akan pernah mati. Kehidupan keluarga Sarip yang miskin membuatnya tidak punya banyak pilihan.

Setahun berjalan, Sarip belum kembali ke Dusun Tambak Oso. Ibunya yang miskin memutuskan untuk menitipkan tambak warisannya kepada Ridwan yang tak lain adalah pamannya Sarip. Perjanjian dibuat bahwa yang akan mengelola tambak adalah Ridwan sekaligus membayar pajak bagi tambak tersebut. Ibunya Sarip mendapat bagian sekedarnya dari hasil tambak yang dikelola  oleh Ridwan. Namun di sepanjang perjalanan waktu, pamannya Sarip yang licik mengingkari perjanjian tersebut. Ibunya tidak mendapat bagian apapun ditambah lagi dibebankan pembayaran pajak. Ini berlangsung selama beberapa tahun.

            Ketika pada akhirnya Lurah Gedangan diperintahkan asisten wedana (Kalau di jaman sekarang jabatan ini berada di bawahnya camat) untuk menarik pajak tambak milik ayahnya Sarip.

“Sudah berapa tahun ini pajak tambak ayah si Sarip tidak dipungut, coba kau kesana ”, perintah asisten Wedana.

“Tapi tuan, itu wilayah tambak Oso bukan termasuk wilayah saya”. Dijawab lurah Gedangan dengan suara patah-patah karena memikirkan akan segala resiko yang harus dihadapi  berhadapan dengan Sarip. Karena Jika sampai ibunya Sarip tidak punya uang untuk membayar pajak, pasti dia akan dihukum pihak pemerintahan kumpeni Belanda. Dan jika sampai ia harus menyiksa Ibunya Sarip. Bisa jadi ibunya tersebut akan berteriak memanggil nama anaknya tersebut. Wah, tambah celaka dia. Bisa – bisa ia dibunuh Sarip.

Seharusnya, bisa saja Lurah Tambak Oso yang disuruh untuk memungut pajak. Toh, sebenarnya itu kan wilayah kekuasaannya dia. Tetapi asisten Wedana mengetahui bahwa Lurah Gedangan ini tipe penjilat dan gila kekuasaan merupakan antek-antek abadi Kumpeni Belanda. Apapun akan dilakukan untuk menyenangkan sang pimpinan tak peduli apakah itu akan menyiksa atau menyengsengsarakan bangsanya sendiri. Sangat jauh berbeda dengan Lurah Tambak Oso. Beliau mengetahui bagaimana rekam jejak Sarip dan keluarganya. Tidak pernah mempermasalahkan Sarip karena Sarip selalu membela masyarakatnya.

Asisten Wedana yang mengetahui kondisi ini pintar memanfaatkan situasi. Lurah Gedangan dipaksa untuk melakukan tugas yang sebenarnya sangat berbahaya karena berhubungan dengan jago silat Tambak Oso. Berangkatlah Lurah Gedangan ke rumah Sarip. Seperti yang telah diduga, Ibunya Sarip yang miskin tidak mempunyai uang. Hasil keuntungan tambak sepeser pun tidak diberikan Ridwan. Bahkan ketika ibu Sarip meminjam uang untuk membayar pajak tambak tidak digubris oleh Ridwan yang jahat dan tamak harta.

“Kau harus membayar pajak tambak”, Lurah Gedangan berteriak pada ibu Sarip.

“Tapi saya tidak memiliki uang” isak tangis Ibu Sarip sambil memegang pipi karena telah dipukul oleh orang suruhan Lurah Gedangan.  Dengan keras hati, Lurah Gedangan meyiksa fisik ibu Sarip. Maka babak belur lah kondisi Ibu Sarip.

Ibu Sarip berteriak dan menangis memanggil nama anak kesayangannya itu. “Sariipppp….Sariipppp……”

Sarip yang mengetahui kondisi ibu yang sangat disayangi seperti itu, sangat marah. Dengan amarah yang memuncak Sarip mengamuk mendatangi lurah Gedangan.

“Pak Lurahhh ….” Dengan penuh amarah Sarip berteriak dan menghunuskan sebilah pisau belati ke tubuh Lurah. Bersimbah darah Lurah Gedangan jatuh tersungkur dan mati.

Mengetahui bahwa bawahannya mati karena dibunuh Sarip maka pihak kumpeni Belanda mengejar-ngejar Sarip. Sarip pun menjadi buronan opas tersebut. Disebutlah Mualim kakak Sarip yang tinggal serumah bersama ibu dan dirinya. Mualim tidak mengijinkan Sarip untuk tinggal di rumah semenjak menjadi buronan karena kuatir akan diinterograsi pihak kumpeni  Belanda. Mualim tidak mau mengambil resiko dengan menyembunyikan Sarip dirumahnya. Maka Sarip pun hidup berpindah pindah di tempat persembunyiannya. Sarip kembali menjadi pencuri budiman yang membagi bagikan harta curian orang kaya antek-antek Belanda ke rakyat miskin. Pihak Belanda pun semakin panas dan marah dengan tingkah Sarip. Kumpeni Belanda mencari cara bagaimana agar dapat menangkap dan membunuh Sarip. Sayembara pun diadakan bagi pendekar yang bisa menangkap Sarip dengan hadiah yang tidak sedikit. Belanda mencari jago bela diri terbaik yang dapat melawan Sarip. Jagoan-jagoan bela diri mencoba untuk menantang Sarip berkelahi tetapi hasilnya nihil. Sarip belum bisa terkalahkan. Sementara, para pejabat Belanda dan para pendukungnya yang duduk di pemerintahan semakin resah karena belum berhasil menangkap Sarip.

Di satu bagian, Ridwan, paman Sarip yang licik mengetahui bahwa Sarip sudah tidak tinggal di rumah bersama ibunya lagi. Sarip tidak selalu ada di dusun tempatnya tinggal itu karena menjadi buronan. Maka dia pun diam-diam mengadakan perjanjian rahasia dengan salah seorang pejabat kumpeni Belanda. Yang mana perjanjian itu berbunyi, kewajiban ibu Sarip untuk membayar pajak tambak miliknya. Karena tambak tersebut milik ayah Sarip dan Ridwan hanya mengelolanya saja. Tentu saja ibu Sarip yang harus menanggung rugi. Tidak mendapat hasil bagian keuntungan tambak dan disuruh membayar pajak. Ridwan ingin melepas tanggung jawab membayar pajak. Ibu sarip sungguh kesusahan karena dia tidak mempunyai uang untuk membayar pajak. Sarip yang mengetahui hal ini sangat marah. Maka Sarip pergi mendatangi rumah pamannya. Ia juga ingin meminta bagian hasil kelola tambak yang tidak pernah diberikan pamannya itu.

“Mengapa kau berbuat licik seperti itu wahai paman Ridwan”, Sarip bertanya kepada pamannya.

“Dan teganya kau bekerjasama dengan kumpeni Belanda untuk menyengsarakan keluarga mu sendiri demi kepentingan mu”

Pamannya yang ketakutan hanya diam saja sambil memikirkan cara bagaimana melawan Sarip.  “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya terjadi, bukankah tambak itu milik ayah mu” ujar Ridwan.

“Tetapi kau lah yang mengelolanya, dan dengan liciknya kau bohongi ibu ku, tak sepeser pun kau berikan pada ibu” dengan penuh amarah Sarip berteriak sambil memegang pisau ditangannya. “Aku mau meminta bagian keuntungan tambak untuk ibu ku” Sarip berucap dengan kasar. Sarip meminta hak yang seharusnya diterima oleh ibunya.  Kemudian Sarip pergi meninggalkan rumah pamannya.

Sepeninggal Sarip dari rumahnya, Ridwan berfikir bagaimana caranya agar Sarip tidak mengusik hidupnya lagi.  Dia langsung meminta bantuan para kumpeni Belanda bersama antek-antek Belanda yang menguasai Dusun Tambak Oso untuk mencari perlindungan. Ridwan sangat mengetahui bagaimana geramnya pemerintahan kolonial Belanda terhadap perbuatan Sarip. Kemudian dia pun berfikir harus mencari jagoan yang kekuatannya sama seperti Sarip. Teringatlah dia akan Paidi.

Paidi jagoan kulon kali yang memiliki senjata andalan berupa senjata Jagang baceman mempunyai keahlihan berduel yang bisa setara dengan Sarip. Paidi juga adalah kusir dokar yang bekerja untuknya. Paidi sebenarnya tidak mempunyai masalah apapun dengan Sarip. Toh, mereka sudah menguasai wilayah kekuasaan masing-masing. Sarip di Wetan Kali dan Paidi di Kulon Kali. Mereka juga tidak pernah terlibat perkelahian untuk merebutkan kekuasaan. Tetapi Paidi adalah anak buah Ridwan yang tak lain paman Sarip. Ridwan mengetahui bahwa Paidi menyukai anak gadisnya yang bernama Saropah. Apapun akan dilakukan Paidi. Ditambah lagi Ridwan telah mempekerjakan Paidi sebagai pengawal anak gadisnya sekaligus menjadi kusir dokar miliknya.

Memanfaatkan situasi yang ada Ridwan yang licik meminta bantuan Paidi. Dia memutar otaknya bagaimana agar kedua jagoan ini dapat bertarung dan berduel dengan memanas-manasi hati Paidi.

Suatu ketika Saropah, diminta untuk menagih hutang orang tuanya di dusun. Ketika dalam perjalanan pulang tidak sengaja Saropah bertemu dengan Sarip. Mengetahui ada anak pamannya, Sarip hendak meminjam uang kepada Saropah. Sarip mengetahui bahwa Saropah baru selesai menagih uang pada rakyat. Tetapi Saropah tidak mengijinkan. Sarip naik darah, Sarip yang pemarah menjadi berang dan dia meminta arloji yang sedang digunakan Saropah. Terjadilah adu mulut antara keduanya.

Disaat terjadi pertengkaran diantara keduanya, muncullah Paidi yang hendak menjemput saropah. Oleh Ridwan memang Paidi ditugaskan untuk menjemput Saropah dan menjaganya dari ancaman orang-orang yang hendak berniat jahat terhadap anak perempuannya.

Panas lah hati paidi, “Apa yang kau lakukan Sarip”

“Aku hanya meminta hak ku”, ujar Sarip balas berteriak. Tidak terima bahwa dia dibentak Paidi yang menurut Sarip tidak ada hubungannya dengan dirinya dan Saropah. Tetapi Sarip tidak mengetahui bahwa Paidi yang sangat menyukai Anak gadis pamannya ini rela bekerja apa saja untuk Ridwan.

Setelah aksi pertengkaran mulut kian panas mereka melanjutkan berduel menggunakan senjata masing-masing. Kekuatan keduanya seimbang karena mereka memang jagoan di daerahnya masing-masing. Tetapi sayang senjata Sarip hanya sebuah pisau belati kalah melawan Senjata Jagang Baceman milik Paidi. Sarip pun terbunuh. Jasadnya dibuang ke sungai sedati. Paidi merasa puas dan menang. Sekarang dialah jagoan di dua wilayah wetan dan kulon Kali. Ridwan yang mengetahui kabar tersebut sangat gembira.

Sementara itu jasad Sarip yang dibuang ke sungai mengambang dan mengeluarkan banyak darah membuat sungai berwarna merah. Saat itu, Ibu Sarip sedang mencuci baju di sungai. Kaget dengan warna merah darah. Perasaannya pun menjadi tidak enak. Teringat dia akan anak kesayangannya Sarip. Dia pun mengikuti aliran sumber warna merah darah tersebut. Didapatlah jasad anak kesayangannya mengambang. Kemudian, dia pun berteriak sambil menangis.

“Sariippp… tangio lhe…. Durung wayahe mati….”

(terjemah:  Sarip bangun nak, belum waktunya mati)

Seketika itu juga sarip yang telah mati bangkit dari kematiannya. Dengan wajah kebingungan dia bertanya pada ibunya apa yang terjadi. Dan ibunya menceritakan kejadiannya yang dilihatnya. Begitulah garis nasib Sarip. Selama ibunya masih hidup dia tidak akan pernah mati jika ibunya meneriakkan dan memanggil namanya. Oleh ibunya Sarip disuruh menangkan diri dan pergi menjauh dari dusunnya.

Di rumah, Ridwan dan Paidi merasa terkejut karena mengetahui ternyata Sarip yang telah mati hidup kembali. Ridwan mencari informasi dan didapatlah dari Mualim -kakak Sarip- sebuah rahasia bahwa Sarip tidak akan pernah mati selama ibunya masih hidup.

Sarip yang masih mendendam akibat perbuatan Paidi terhadapnya, mencari dan menantang Paidi kembali berkelahi. Akhirnya pertarungan kali ini dimenangkan oleh Sarip. Terbunuh lah Paidi oleh pisau belati milik Sarip.

Ridwan makin merasa kuatir karena jagoan yang ia miliki dan ia percayai akan mampu menjadi lawan seimbang Sarip telah tewas terbunuh di tangan Sarip. Di satu sisi, pihak perangkat desa dan kumpeni Belanda makin gencar mencari Sarip yang sudah menjadi buron karena telah membunuh Lurah Gedangan dan Paidi.  Akhirnya Ridwan yang licik bekerjasama dengan pemerintah Kolonial Belanda, memberitahu kelemahan Sarip adalah ibunya. Selama ibunya masih hidup maka Sarip tidak akan pernah dapat mati. Belanda sangat senang mengetahui kelemahan ini, akhirnya ia akan dapat membunuh seorang pemberontak dan penghasut rakyat kecil yang suka melawan pemerintahannya.

Disusun lah sebuah skenario, bagaimana cara agar dapat menangkap Sarip. Opas atau polisi Belanda menangkap ibu Sarip dan dibawa ke rumah Ridwan. Kemudian ibunya Sarip dibunuh terlebih dahulu. Seketika itu juga Sarip yang mengetahui bahwa ibunya telah dibawa ke rumah pamannya secara paksa. Menjadi berang dan marah. Sarip pergi ke rumah pamannya, dan ketika itu juga pihak kumpeni Belanda langsung menembakkan peluru dari pistol ketubuh Sarip. Sarip tidak dapat melakukan perlawanan apapun.

Pendekar Tambak Oso sang pembela rakyat kecil itu jatuh tersungkur mati. Tidak akan ada lagi yang bisa membangkitkan dirinya dari kematian. Tidak ada lagi suara jeritan kasih sayang sang ibunda yang dapat membuat dirinya hidup kembali. Sarip segera menyusul ibunya meninggalkan dunia yang mencari keadilan saat itu sangat sulit untuk didapatkan.

Konon akhirnya jasad Sarip dibuang ke sumur dan ditutup dengan batu serta tanah.

Cerita Sarip Tambak Oso ini sering dipentaskan di seni Ludruk Jawa Timur di panggung Surabaya maupun Sidoarjo. Sejak jaman dahulu, cerita Sarip Tambak Oso ini menjadi salah satu penyemangat perjuangan melawan penjajah Belanda. Simbol perlawanan rakyat miskin untuk membela rakyat dan negaranya.

Bagi masyarakat Surabaya dan Sidoarjo khususnya, Sarip adalah sosok pemberani, patuh terhadap ibunya, religius, dan pembela kepentingan rakyat kecil. Menjadi contoh karakter baik masyarakat tempat cerita ini tumbuh dan berkembang dari mulut ke mulut di Dusun Tambak Oso yang terletak di Desa Gedangan.

Keberanian dan kebaikan Sarip akan terus menjadi legenda, sifat baiknya akan terus menjadi contoh. Bahwa masih banyak orang baik yang mau mengorbankan dirinya demi kepentingan orang banyak.

  • Tamat –

Penulis:

Dian Ika riani

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: