Maka bermula darimana perjalanan ini?

30 Jun

Jejak-jejak kaki ku

Dimanakah sekarang saya menjejakkan kaki ini?

Bilakah kaki ini enggan untuk berdiam diri. Dan iya kan terus melangkah sesukanya.

Membawa tubuh ini melihat bumi yang diciptakan Tuhan dengan sangat luasnya.

Maka ini dapat saya sebut bermula dari mimpi yang perlahan-lahan pasti kan saya wujudkan…

Dan coretan hati ini, bermula dari sesak di dada yang ingin saya tuliskan dan saya ceritakan pada semua orang agar mereka pun dapat mendengar apa yang saya dengar, merasakan apa yang saya rasa dan melihat apa yang saya lihat. Dan seterusnya kemudian mereka dapat berbagi cerita dengan yang lainnya.

Tak tahu mengapa mata ini berbinar ketika melihat tempat-tempat indah di bumi. Ketika saya dapat bersentuhan dengan local peoples tempat saya menginjakkan kaki di daerah yang belum pernah saya singgahi. Jatuh cinta ketika mengetahui bahwa bahasa kita ternyata tidak sama, kebiasaan sehari-hari kita berbeda, makanan mu terkadang mirip rasanya dengan makanan ku atau bahkan sama sekali terasa aneh di lidahku. Angkutan umum transportasi mu unik bahkan sebelumnya tidak pernah kulihat.  Aneka ragam budaya yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui dan terakhir saya sangat bersyukur dengan kesempatan yang telah Tuhan berikan pada saya dapat melihat, mendengar, dan merasakan pelajaran kehidupan sesungguhnya yang saya dapat dari universe, yap ini  adalah  satu university of life. 

Awalnya pun saya lupa. Tetiba saja saya  kerasukan “roh” Traveling a la backpacker. Seperti orang kalap ketika melihat tiket-tiket murah yang ditawarkan maskapai low cost carrier, menjelajah blog demi blog yang menceritakan perjalanan a la pejalan mandiri mereka secara backpacking, dan berkenalan dengan komunitas backpacker yang ketika saya bersentuhan dengan mereka saya kejang-kejang tersetrum semangat mereka untuk segera menabung dan terus menabung. Mengumpulkan keping-keping mimpi saya agar segera dapat terwujud.

Setelah negara satu terjelajahi, maka saya segera saja kerasukan “roh” ingin berbagi. Berawal dari banyaknya keinginan tahu orang lain untuk bisa menjelajah. Dan banyaknya yang mencela saya dengan tidak mempercayai itu. Disini saya ingin berbagi dan membuktikan bahwa berjalan melihat dunia luar itu tidak harus mempunyai uang berpuluh-puluh juta rupiah. Bahwa kalian pun bisa segera mewujudkan mimpi dengan bekerja keras dengan menabung.

Negara pertama yang saya jelajahi adalah Thailand. Negeri gajah putih. Negara seribu pagoda. Berawal dari tiket Rp 600.000,- pergi-pulang menuju Bangkok. Saya yang baru mengenal maskapai berbudget murah ini mencoba belajar secara otodidak untuk mengubah haluan berfikir sebagai pejalan mandiri. Backpacker adalah sebutannya, tapi mengutip sebutan kata oleh seorang teman, saya lebih suka menyebutnya pejalan mandiri. Yap, semua saya jalankan sendiri, tidak hanya makan dan mandi sendiri he…he..he…

Bersentuhan dengan dunia lain ini mengajari saya banyak hal. Pertama saya belajar mengatur perencanaan. Saya harus browsing informasi sebanyak-banyaknya di internet dan komunikasi dengan pejalan lainnya, bertukar informasi. Kemudian merencanakan tujuan perjalanan, menentukan spot-spot apa saja yang ingin saya kunjungi, mengatur waktu-waktu perjalanan. Memanfaatkan waktu dengan baik seperti halnya jam sekian saya berada dimana kemudian saya kemana, kemana dulu saya akan pergi dan menghabiskan waktu berapa lama. Perencanaan yang baik tentu saja akan menghemat biaya karena semua telah teratur dengan baik. contohnya, jika saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain yang take time so much, saya bisa memanfaatkan perjalanan di malam hari sehingga bisa menghemat biaya menginap di hostel. Seperti kemarin ketika perjalanan pindah negara melalui jalan darat. Dari kamboja menuju vietnam maka saya ambil perjalanan malam hari. Perhitungan waktu yang tepat pun akan menghemat tenaga,waktu dan biaya.

Kedua, saya belajar mengatur keuangan selama perjalanan. Saya akui saya belajar teori keuangan selama di bangku kuliah. Karena saya adalah sarjana akuntansi. Tetapi di setiap perjalanan kehidupan saya, disinilah saya belajar ilmu keuangan yang sesungguhnya. Bagaimana saya harus mengatur dengan baik keuangan saya jangan sampai saya terlantar di daerah orang yang tidak saya kenali. Mengetahui kapan harus melonggarkan anggaran untuk mempersilahkan diri menikmati segala sesuatu dan memperketat ikat pinggang keuangan ketika harus mengambil keputusan menggunakan biaya untuk hal lain-lain diluar perencanaan. Sebagai salah satu contohnya adalah ketika tenaga kami sudah terkuras habis di hari-hari terakhir perjalanan. Saya dan suami memutuskan hari pertama di vietnam kami akan mengambil sharing room di dormitory kemudian pindah ke private room yang pasti akan mengambil biaya lebih mahal. Tapi keputusan ini harus saya ambil demi kenyamanan bermalam yang lebih private, karena flu sudah mulai menyerang.

Ketiga saya belajar take decision. Yap betul, pelajaran mengambil keputusan dengan cepat. tepat dan akurat .Menghitung baik dan buruknya hasil keputusan tersebut. Sering kali di perjalanan saya dihadapkan pada keputusan memilih dengan cepat. Ketika saya akan menelusuri negara Malaysia, dari kota Kuala Lumpur menuju penang menghabiskan waktu 5 jam. Kemudian saya mencoba mengambil keputusan menggunakan transportasi pesawat untuk menghemat waktu. Dan biaya yang saya keluarkan pun saya cari semurah-murahnya. Dengan pesawat promo hanya seharga Rp 70.000,- dan mengambil keputusan kedua untuk menginap di airport Kuala Lumpur daripada harus menuju kota KL dan kembali lagi ke airport. Keputusan cepat ini agak mengejutkan partner traveling saya, Tapi keputusan ini saya ambil dengan pertimbangan-pertimbangan baik sebelumnya.

Saya ingin berbagi kisah kedua mengenai take decision. Ketika itu saya backpacking dengan kakak ipar saya. Perencanaan awal adalah kami telah sampai di kota Hatyai, Thailand Selatan kemudian hendak kembali ke kota Kuala Lumpur. Karena menempuh perjalanan panjang saya memutuskan menggunakan kereta api berjenis sleeper chair. Sebelumnya saya mengerti kondisi kakak saya, tidak terlalu bisa lelah. Saya pikir akan nyaman menggunakan kereta ini. Waktu menunjukan pukul 15.45. Kami dipersilahkan menaiki kereta. Dan deg..kaget bukan main, kami mendapat kelas di atas. artinya kursi tidur itu ada diatas harus menaiki tangga kecil dan kakak saya yang memiliki berat 100 kg sangat mustahil untuk manjat naik ke atas. waktu tinggal 10 menit lagi dan kereta api akan berangkat. hari sudah sore. Opsi transportasi ke Malaysia tinggal menggunakan bis malam yang terakhir jam 6 itu pun hanya satu dan di waktu weekend gini selalu penuh jika tidak dibooking terlebih dahulu. Jika sampai saya tidak dapat kembali ke Malaysia sangat gawat. Karena pesawat kepulangan saya ke Indonesia adalah keesokan sorenya. Perjalanan antar negara yang harus ditempuh 10 jam.  Harus ambil keputusan cepat. Gak mungkin kakak saya duduk di lantai kereta api. 5 menit sebelum kereta berangkat kami lari turun dari kereta kemudian naik tuk tuk menuju pool bis. alhamdulillah masi ada tempat untuk kami, karena ada penambahan 1 unit bis lagi. Nah, keputusan cepat bertindak ini mengajari saya banyak hal sepanjang perjalanan yang saya lakukan.

Keempat, pelajaran open mind, empati, berpikir positif, optimis dan ramah. Pernah dalam keadaan hujan lebat saya sampai di airport Phnom penh, Kamboja. Perenacanaan awal dan budget saya adalah saya menggunakan ojek. Maka kondisi ini tidak memungkinkan. Maka saya menggunakan opsi kedua. Menggunakan transportasi tuk-tuk. Dan kondisi ini pun tidak memungkinkan karena tidak ada tuk-tuk yang bersedia berjalan. Akhirnya saya terpaksa memilih opsi ketiga. Menggunakan taksi. Meskipun lebih mahal, Tapi saya tidak ada pilihan lain untuk memilih moda transportasi. Hujan yang tidak mungkin berhenti dalam waktu sebentar, hari yang semakin malam, tubuh yang sudah sangat lelah dan harus melanjutkan perjalanan. Tapi saya punya pilihan lain dalam mengambil keputusan cepat ini. Saya telah memikirkan opsi lainnya, yap telah saya pikirkan saat itu juga, saya menggunakan taksi dan mencoba mencari teman lain yang akan menggunakan taksi dengan tujuan sama (minimal tempat yang berdekatan). Saya mencoba untuk open mind, berpikir positif, dan ramah. Saya tawarkan kepada seorang stranger man kelihatannya seperti business man dari gayanya dan bawaan nya. but it’s okay. saya coba. Dannnnn saya berhasil. Tempat yang saya tuju pun berdekatan. How lucky i’am. Pelajaran open mind ini juga sangat diperlukan ketika saya harus sharing room dengan manusia dari berbagai bangsa. Bersikap ramah, empati dengan sesama pengguna sharing room ,tidak berisik, tidak memberantakan kamar dan tidak egois ketika menggunakan kamr mandi yang digunakan bersama-sama. Syukur-syukur bisa sharing cost untuk bepergian bersama dan menggunakan transportasi umum.

Kelima, pelajaran mencintai bangsa saya dan negara saya tercinta. Banyak yang bilang, kamu ke luar negeri emangnya dalam negeri udah khatam kamu telusuri? . Kadang saya suka tertawa geli dalam hati. Lha wong saya luar negeri juga belom kemana-mana, tapi yang sedikit telah saya kunjungi ini justru saya rekam baik-baik yang bisa saya petik pelajarannya. Tidak hanya di luar negeri , di dalam negeri pun saya nikmati. Bahkan berjalan untuk melihat banyak hal itu tidak perlu kita lakukan dengan keluar negeri atau pun kota lain yang jauh dari tempat tinggal kita. Pelajaran melihat itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berlapang hati dan berbesar hati. Kalau ditanya sudah berapa banyak tempat di Indonesia yang sudah saya kunjungi? ya. yang pasti lebih banyak dari luar negri. Dan ketika saya di luar Indonesia pun, saya tak melupakan pesan yang harus disampaikan diluar sana. Saya orang Indonesia, bangga  menganut budaya timur yang suka menolong, berempati , sopan dan ramah. Saya pun membawa identitas bangsa yang melekat di diri saya. Saya yang terlahir seorang Indonesia. sangat mutlak memiliki wajah Indonesia. Ini membuat saya sering disapa orang dari negara lain dan membuat mereka penasaran dengan asal negara saya. Karena yang mereka tahu hanya Bali. Saya tunjukin daerah lain yang tak kalah indahnya. Mereka pun tercengan heran dan berjanji membuat rencana untuk mengunjungi banyak kota di Indonesia. tuhh kann saya ini termasuk duta bangsa Indonesia loh. he he he he he…. Saya pun ikut memperkenalkan banyak tempat di Indonesia kepada mereka.

keenam, pelajaran bersyukur. Saya yakin akan banyak pelajaran berharga lainnya yang tidak tersebutkan di tulisan saya ini. Tetapi percayalah yang paling utama adalah pelajaran bersyukur. Mensyukuri nikmat Tuhan yang menciptakan bumi dengan sangat luasnya. Bersyukur saya masih diberikan penglihatan baik untuk memandangi ciptaan Tuhan dan belajar darinya. Bersyukur saya diberi nafas kehidupan, kesempatan untuk hidup, kaki yang dapat terus melangkah menyusuri pembelajaran hidup lainnya yang tidak pernah saya dapati di bangku sekolah manapun.

Pembelajaran dari kehidupan itu adalah berjalan sambil melihat .”eka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: