Selamat Hari Ayah Nasional, almarhum papa sayang

12 Nov

Saya menitikkan airmata mendengar cerita Raffi Ahmad di sebuah tayangan TransTv malam, YKS. Bercerita tentang Raffi Ahmad yang belum dapat mengabulkan permintaan Ayah nya untuk foto keluarga. Permintaan yang tidak sulit kalau kita berpikir secara logika. Sungguh dia sangat menyesal tidak dapat mengabulkan permintaan ayahnya, karena kesibukannya. Yang bikin sedih, Ayahnya itu bener2  ngebelain menunggu di studio foto. Tapi Raffi nya ga kunjung-kunjung datang. Akhirnya tiba hari selanjutnya untuk membuat janjian foto hari kamis. Tapi apa daya, waktu adalah sesuatu yang tidak dapat diulang, Rabu malam pukul 9 Terakhir kali Raffi berbicara dengan ayahnya di telpon. Dan ayahnya masih mengingatkan untuk janji ber foto bersama hari kamis (keesokkan harinya). Tepat sekitar pukul 12-an malam , salah satu adik angkat Raffi menelpon, menangis, meminta Raffi untuk segera pulang karena ayah Raffi telah meninggal dunia. Apa daya manusia tidak dapat mengulang waktu yang lampau untuk menebus segala penyesalan yang telah dilakukan.

(…………………………………….)

Ini tentang saya

Jujur setelah Ayah saya meninggal, rasanya saya sangat membenci semua lagu tentang ayah. Maka jangan sekali-kali saya mendengar lagu tersebut. Sebenarnya kalo boleh jujur lebih tepatmya bukan membenci, tetapi saya gak sanggup menahan tangis. Sampai sekarang pun seperti itu. Meskipun ayah saya telah meninggal 3 tahun yang lalu, tepat nya 4 tahun kurang satu bulan. Karena Desember 2013, tepat 4 tahun ayah saya telah meninggalkan dunia.

Titip Rindu Buat Ayah

by: Ebiet G Ade

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras

namun kau tetap tabah

hm…Meski nafasmu kadang tersengal

memikul beban yang makin sarat

kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

kini kurus dan terbungkuk

hm…Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetarkau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu

untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Umur papa saya saat meninggal masih 55 tahun. Masih muda menurut saya. Yang terkadang sulit saya terima adalah papa saya meninggal dalam kondisi sakit jantung. Dan menyesalnya saya dan keluarga, kami baru mengetahuinya 3 bulan sebelum ajal menjemput papa saya. Itu juga karena papa saya mengalami serangan jantung, merasa sesak nafas yang sangat parah. Tapi alhamdulillah saat itu papa tidak stroke, tidak mengalami pecah pembuluh darah dan tidak sampai pingsan. Dokter mendiagnosa papa saya mengalami serangan jantung dan telah ada penyumbatan pembuluh darah di pembuluh koroner jantungnya. Tentu saja saya sangat shock saat itu. Saat itu saya tidak pulang ke medan, ke kota dimana orangtua saya tinggal. Saat itu kondisi keuangan saya tidak memungkinkan pulang dan saya tidak mau merepotkan orang lain. Papa hanya bilang dia baik-baik saja. Dia tidak apa-apa. Saya tidak usah kuatir. Tetapi setiap hari saya menangis. Setiap Shalat saya selalu menangis. Setelah papa saya keluar dari rumah sakit, selang 2 bulan an, kami memutuskan papa akan berobat di kota saya karena pertimbangan adanya keluarga yang dokter bisa langsung mengawasi papa disini. Setelah papa menjalani pemeriksaan diketahui bahwa penyumbatan sudah sangat parah hampir 90%-95%. Sehingga jalan satu-satunya harus operasi by pass.  Papa tidak mau menjalani operasi, karena hasil yang sulit di prediksi meskipun sekarang teknologi kedokteran sudah sangat canggih untuk meminimalisasi resiko. Tetapi rasa takut dalam tiap orang itu sulit dipahami bagi yang lainnya. Dan saya tahu rasa takut ayah saya.

Masih terbayang dalam ingatan saya di rumah sakit setelah selesai proses kateter, papa bertanya pada saya mengenai hasilnya. sungguh saya tidak berani menjawab. Mama saya pun terus-terusan menangis. Akhirnya saya harus memberitahu hasilnya. Papa hanya diam sambil tersenyum tipis berkata, “jadi papa gimana ka?” , saya kuatkan untuk tidak menangis di hadapannya. Saya tahu dia tidak tega untuk meninggalkan kami semua. dan saya yakin dia sudah merasakan sesuatu itu.

Akhirnya diputuskan bahwa ayah saya akan mencoba pengobatan alternatif dan medis secara bersamaan. Kami banyak membaca buku, mencari informasi mengenai penyakit ini. Papa sangat berserah diri kepada allah, sebelum sakit pun ibadah papa sudah hebat. Hubungan spiritual nya dengan Allah sangat dekat. Mama saya setiap hari menangisi papa. Mama memutuskan untuk pulang sebentar karena harus memperpanjang cuti pekerjaan nya. Papa juga menyuruh mama pulang. kasihan adik saya sendirian ujar papa. Papa disini bisa bersama saya. Begitu seringnya saya melihat papa begitu khusyuknya berdoa ketika malam-malam terbangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Saya sering menangis melihat papa ketika beliau sedang berdoa. Terkadang ketika papa sakit dadanya, dia sering bilang sama saya, ka, dada papa sakit lah…. saya tahan airmata saya, langsung saya wudhuk dan membuka Al Quran, kami mengaji bersama untuk menguatkan papa dan mengisi hati kami dengan ayat-ayat suci Al Quran.

Sungguh saya bahagia bisa merawat papa saya. Saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan freelance saya. Setiap hari saya yang memasak untuk papa. Saya perhatikan detail kebutuhan papa. Saya belajar memasak, saya belajar memasak sehat untuk penderita penyakit jantung. Ketika akan pergi-pergi pun saya memasakkan bekal untuk dibawa papa supaya papa tidak perlu makan yang tidak sehat. Saya merasakan kesungguhan nikmat menjadi seorang anak. Karena sejak SMA saya sudah tinggal di kota yang berbeda dengan papa saya. Kuliah pun saya menjadi perantauan di tanah jawa sampai akhirnya menikah.

Setelah sebulan-an papa mengatakan ingin pulang sebentar ke medan mau lihat mama dan dedek. Dengan berat hati saya ijinkan papa pulang. Saat itu papa tertawa2 dan bilang hanya pulang seminggu nanti balik lagi ke surabaya. Mengantar papa ke airport , saya cium kening papa. Setelah papa masuk ke ruang dalam airport, saya pun pulang. Di mobil tak henti-hentinya saya menangis, saya sangat kuatir akan kehilangan papa, kuatir papa akan meninggal.

Ketika di Medan, satu-dua-tiga hari papa dengan riang berbicara dengan saya ditelpon, dia pun bercerita dikunjungi teman-temannya di rumah. mulai hari ke empat papa terkena flu, sehingga agak sulit bernafas. Saya kuatir sangat, hanya bisa menangis dan berdoa. Akhirnya, kami putuskan membeli tabung oksigen untuk ditaruh di rumah agar papa nyaman bernafas. Hari-hari selanjutnya sangat suram karena flu papa bertambah parah, badannya pun demam. Adik saya pun sakit terkena flu juga. Papa dibawa ke rumah sakit tidak mau. Berbicara di telpon papa berkali-kali emmint asaya untuk selalu mendoakannya. Saya menguatkan hati papa untuk memberi semangat kepada papa. Terakhir papa sempat ke dokter jantung di medan dan dokter memeriksa papa tidak apa-apa, ntah lah itu hanya untuk menenengkan kami atau apa. Karena emang kondisi papa terkena flu parah makin memperparah sulitnya bernafas. Sabtu siang papa masuk UGD masih dengan kondisi berjalan sendiri dan naik sendiri ke atas tempat tidur rumah sakit. Papa saat itu sudah sangat sulit bernafas dan sakit dadanya karena itu kami paksa papa ke rumah sakit. Setelah menggunakan masker oksigen papa sudah tidak banyak bicara hanya beberapa kali mengucapkan sakitt…sakitt..tidak tahan… saat itu adik saya yang menunggui papa saya, karena mama lagi dalam kondisi perjalanan menuju rumah sakit.Mama sampai, tidak lama kemudian papa sudah tidak berbicara lagi, uji coba menggunakan penghentak jantung telah dilakukan medis. Tetapi papa hanya diam dengan grafik jantung yang tidak stabil merendah. Adik saya mengirimkan sms, bahwa papa telah gagal jantung. saya ingat sekali sms itu, saat itu saya sedang bersiap menuju airport untuk segera pulang. sial nya saya pesawat hanya ada malam. Dan sempat di delay, saya mengiba menangis dengan pihak maskapai L**n air untuk disegerakan mengikuti pesawat yang akan berangkat sekarang, karena pesawat saya yang next akan didelay. Syukurlah saya diijinkan ikut pesawat yang akan berangkat sekarang, berlari-lari saya menuju pesawat. Akhirnya saya tiba mendarat di kota transit. Saat itu ternyata papa saya telah menghembuskan nafas terakhirnya, tidak ada yang mengabari saya. Mereka hanya bilang papa masih di rumah sakit. Takut saya pingsan, karena saya berangkat sendirian tidak ada yang menemani saya. Akhirnya say asampai di Medan pukul 12 malam. Saya dijemput saudara dan teman papa,saya heran kenapa ini arah perjalanan nya tidak menuju ke rumah sakit hanya di rumah, setelah mendekat, saudara saya mengatakan bahwa papa sudah tiada. Di belokan mendekati rumah saya telah melihat bendera putih tanda adanya orang yang telah meninggal, terop pun telah dipasang di depan rumah. Melangkahkan kaki pun saya tidak sanggup. Saya berteriak tidak mau turun dari mobil. Tidak mau melihat jenazah papa yang telah terbujur kaku di tengah-tengah ruang keluarga rumah kami.

Innalillahi wainnalillahi Rojiun.

Tidak sempat saya melihat papa menua dengan rambut putihnya, ntah kenapa rambut papa belum memutih. Tidak sempat saya melihat papa mengkriput, berjalan tertatih karena umur yang tua. Tidak sempat saya membahagiakan papa. Tidak ada satupun yang dapat saya beri kepada papa semasa ia hidup. Begitu banyak penyesalan atas semua sikap saya yang tidak baik terhadap papa. Perbuatan dan perkataan kasar yang menyinggung perasaan papa. Tidak sempat papa melihat adik saya menikah dan dewasa, karena papa sangat mengkuatirkan adik saya. Begitu bahagia nya sejak kecil segala kebutuhan dan segala pa yang saya inginkan begitu mudahnya dikabulkan papa. Papa yang baik yang sangat menyayangi keluarganya. Kasih dan cinta nya sulit diukur dengan ukuran macam apapun, karena kasih dan cintanya itu tak terhingga.

Papa meninggal tepat sehari sebelum hari pernikahan saya yang juga berumur setahun. Sungguh di hari peringatan hari pernikahan saya, saya berjalan mengantar jenazah papa di tempat pembaringan terakhirnya. Sekarang pembaringan papa telah ditumbuhi pohon kamboja kuning yang sangat cantik. Papa how;s there? semoga papa bahagia selalu dekat dengan Allah ya pa…

Innalillahi wainnalillahi Rojiun.

Semua berasal dari NYA akan kembali kepada NYA. Wajah almarhum papa begitu bersihnya, tersenyum. Seperti terbebas dari rasa sakitnya. Mungkin inilah yang paling terbaik bagi papa. Telah diangkat rasa sakitnya oleh Allah, ditempatkan papa disisi Allah. Semoga Allah menempatkan papa di tempat paling terbaik. Dijauhkan siksa kubur dan dilapangkan tempat papa. Amin ya Allah.

Papa dan mama

Papa dan mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: