Another story “menetap di Hostel”

26 Oct

Memulai cerita tentang perjalanan kali ini adalah upaya pemaksaan terhadap diri saya sendiri dalam usaha untuk tetap berangkat berjalan-jalan meskipun saya tahu bahwa badan saya ini tidak dapat dipaksakan. Toh, saya pikir ntar kalau saya bahagia menikmati perjalanan saya akan sembuh dengan sendirinya. Oke teman, tips kali ini jangan ditiru ya karena tidak terjamin kebenaran. Seperti cerita saya kali ini.

Berburu tiket promo adalah salah satu kegemaran saya, apalagi semenjak mendapat banyak ilmu dari sesepuh di sebuah komunitas backpacker. Terlebih lagi setelah saya join di social media, mem-follow twitter, dan sign up website milik maskapai yang sering mengadakan promo tiket murah. Jauh-jauh hari telah saya siapkan mental untuk berani melakukan perjalanan solo traveling pertama ini.  Negara yang saya pilih sebagai tujuan  juga yang menurut survey dan hasil sharing sesama pejalan lain merupakan negara ramah turis dan aman pastinya. Oke, tiket telah dipilih dan telah tanggal telah pasti adanya. Berangkattttt siap grak!!!

Sebelumnya saya telah berusaha untuk menjaga kondisi fisik agar sehat. Tetapi rutinitas dan adanya kegiatan luar biasa yang diluar rencana telah membuat tubuh menjadi ambruk. Sehari sebelum berangkat saya menuju ruang praktek dokter langganan untuk mendapatkan suntikan. Maksud hati saya mungkin bisa dipaksakan untuk langsung sembuh. He he he he kata wong jowo, mokso tenan iki. Obat-obatan dan nasehat dari dokter telah saya kantongi.

Malam sebelum keberangkatan lagi-lagi saya galau mengenai keberadaan hostel yang akan saya tuju. Sungguh penyakit buta arah saya ini kian menjadi parah. Kok udah berkali-kali mempelajari peta masih saja sulit untuk menemukan tempat yang ingin didatangi. Akhirnya saya menghubungi salah seorang teman yang baru saja bepergian, untuk meminta petunjuk detail ancer-ancer hostel yang dimaksud. Setelah bertemu, dia memberi ancer-ancer petunjuk termasuk bangunan yang mungkin menjadi petunjuk letak hostel yang dimaksud.
Beliau juga menjelaskan, jangan kuatir nanti terhadap teman sekamar yang bermacam-macam. Di hostel pun nanti ada dapur mini. Kita bisa menggunakannya secara free.

airplane

mariiii berangkatttttt

Singapura, ini lah negara tujuan solo traveling saya. Memantapkan hati melangkah keluar dari airport Changi yang sangat memukau. Hmmmm… Sempat terbayang akan menyenangkan jika dapat menginap di airport yang nyaman ini. Mempunyai fasilitas penyimpanan tas, area charging baterai, shower untuk mandi, bioskop dan kursi santai yang bisa ditidurin secara sempurna.

Hormon suka-ria saya meningkat dan seperti melupakan radang tenggorokan saya yang membuat badan panas-dingin. Dengan semangat menggebu saya keluar dari Changi menuju stasiun MRT changi yang terintegrasi dengan airport changi. Saya merencanakan akan keliling singapura sambil mencari hostel yang saya maksud.

Mengenai hostel, saya belom melakukan reservasi. Hanya saja saya telah  banyak membaca referensi pilihan hostel di buku panduan perjalanan dan hasil browsing internet. Hmmmm… Bagi saya smart traveler itu adalah pejalan yang selalu mau banyak tahu. Mencari informasi wajib hukumnya. Agar budget yang tersusun rapi sesuai dengan rencana pengeluarannya. Mungkin tidak semua orang berfikir seperti saya yah. Mungkin juga karena saya harus menabung lama untuk dapat bepergian, budget yang tersedia juga sangat terbatas. Nah, kalo sampai saya kehabisan uang karena kesalahan dalam menyusun rencana perjalanan ataupun karena kesalahan saya kurang mendapat informasi mengenai negara tujuan saya bisa fatal akibatnya.

Beberapa nama hostel sudah saya kantongi. Tidak saya reservasi terlebih dahulu, karena saya ingin tahu hostel yang akan saya tempati. Ini pertama kalinya saya akan tinggal dalam sebuah dormitory di hostel. Takut? Pasti. He he he… Kenapa takut? Karena nanti di dormitory itu akan berkumpul banyak orang yang tidak saya kenali. Bagaimana jika mereka berusaha menjahati saya. Kemudian, ketakutan saya selanjutnya bagaimana jika nanti saya dibius dan diculik ketika tidur? Wahhh ini bener-bener ketakutan saya yang sangat abnormal. Belom lagi jika saya tidurnya tidak-enak-dilihat atau ngorok (ups…) Pasti akan membuat malu diri saya sendiri. Bener-bener dilema, jika saya ingin tinggal di private room yang isinya saya sendiri tentu saya tidak mempunyai uang sebanyak itu, berarti solusi satu-satunya adalah saya harus tinggal di dormitory yang ditinggali banyak orang.

Pada akhirnya saya mencoba berdamai dengan diri saya sendiri meyakinkan diri saya bahwa saya akan menikmati petualangan baru dalam hidup saya. Toh, paling rasanya seperti tinggal di asrama saja. Saya juga sudah pernah hidup di asrama dengan banyak orang. Mungkin yang tidak boleh saya lupakan untuk dibawa adalah sarung. Ya benar yang disebut namanya si  Sarung,  pada akhirnya benda ajaib ini adalah penyelamat tidur saya. Ini bisa ditambahkan sebagai tips ya teman-teman. Sarung dapat menutupi anggota badan kita ketika tidur, bisa menutup muka juga bagi yang tidak suka ber-lampu ketika tidur, sarung juga bisa melindungi kita dari gigitan nyamuk, dan terakhir sarung bisa membantu kita mengusir rasa dingin.

Sungguh kesulitan bagi diri saya menemukan hostel yang menjadi favorit bagi para backpacker. Entahlah apa salah saya. Saya sudah berusaha turun di stasiun MRT yang menurut saya sesuai. Tetapi jalan keluar “exit” stasiun ini sungguh membingungkan. Karena ketika saya keluar di exit A maka saya akan muncul di tempat berbeda ketika saya akan keluar dari exit B dan seterusnya.

Badan saya mendadak panas-dingin kembali, karena sakit yang saya dera dan keletihan saya akibat memaksa kaki berjalan. Sebenarnya salah saya juga, karena masih pagi hari saya pikir tidak ada salahnya, sebelum mencari hostel saya mengunjungi tempat2 wajib tujuan wisata negara ini. Salahnya saya lagi, dengan menggendong ransel seberat 7 kg , upaya pemaksaan tubuh badan saya drop kembali.  Dan sekarang saya tidak menemui hostel yang dimaksud itu, saya pasrah saja ketika mata saya tertuju dengan salah satu hostel yang saya jadikan pilihan terakhir saya untuk menginap. Saya pikir saya juga tidak mampu untuk berjalan jauh lagi sehingga apa yang ada di depan mata saya akan ambil saja.

home

Tempat Berteduh

Hostel ini juga sebenarnya tidak terlihat. Karena dia berada diatas restoran. Berada diantara deretan pertokoan. Yang saya lihat adalah restorannya, kalau saja tidak ada restoran ini pasti saya tidak akan terlihat plang nama hostel. Dengan fasilitas sempil-menyempil, reservasi hostel dilakukan dilantai 2 dan kamar-kamar berada di lantai diatasnya terus keatas. Oke, selamat datang di rumah sementara. Disinilah saya akan tinggal beberapa hari. Saya mulai memilih dan melihat daftar harga. Bermacam-macam pilihan kamar yang berisi bunk bed, ada yang 2 bunk bed berarti dapat ditempati 4 orang dan sebagainya. Saya pilih bunk bed 2 berarti saya akan mendapat 3 teman baru. Kebetulan semua kamar penuh, yang tersisa adalah mixed dorm artinya dorm ini berisi female dan male . Pintu telah terbuka, dan saya mulai takut bagaimana kamar yang akan saya tempati berisi 3 pria dan saya adalah sendiri sebagai wanita. Melewati banyak kamar saya penasaran dengan dorm yang berisi 5 bunk bed berarti akan ada 10 orang dalam kamar yang minimalis saking terbatasnya ruangan. Hostel benar-benar pintar menyusun lahan dan ruangan. Memanfaatkan lahan terbatas membangun keatas. Itulah sebabnya saya terkadang sulit menemukan letak hostel. Karena selalu tempat yang sulit dicari. Hmmmm berarti bukan saya yang buta arah ya? He he he he…

gembok

tok….. tok…. tok…

Saya memasuki kamar ternyata kosong, sekilas tadi bapak penjaga memberitahu saya bahwa di dalam kamar ini terdiri dari seorang pria yang berasal dari australia dan dua orang lagi dari filipina. Dan karena saya orang terakhir dikamar ini saya harus pasrah menempati tempat tidur yang kosong dan itu berada diatas. Wahhh badan saya yang sedikit gemuk (uhukk.. pencitraan dengan menulis “sedikit”) membuat saya ragu maju-mundur bisa gak ya naik keatas tangga bunk bed ini. Saya tidak bisa memilih lagi kamar yang lain karena hanya ini yang tersisa, saya pikir tidak apa-apa lah karena ini penyelamat badan saya yang sedang sakit. Besok mungkin saya bisa mencari hostel yang lain. Di dalam kamar ini disediakan loker tempat kita menyimpan tas. Hanya tempat tidur dan loker, tapi tidak semua kamar seperti ini. Saya tadi melihat ada juga loker bersama yang diletakkan diluar kamar. Setelah saya menyusun semua barang dan menaruh tas saya di dalam loker dan meng-gembok-nya, oh iya, jangan lupa membawa gembok sendiri ya, karena tidak semua hostel menyediakan gembok. Hmmm…. handphone saya kehabisan baterai saya mencari-cari colokan listrik. Dan ternyata dikamar ini tidak tersedia colokan listrik. Waduh, benar-benar fatal kejadian seperti ini, saya pun bergegas mengadu kepada resepsionis, tetapi apa daya beginilah adanya. Saya dipersilahkan menitip handphone yang ingin di-charge di resepsionis. Saya putuskan tidak menyerahakan handphone saya. Ketika saya akan kembali ke kamar, saya disapa seseorang dari balik pintu sebuah kamar. Dia mempersilahkan saya untuk melakukan charging handphone dikamar mereka. Oalah.. ternyata tidak semua kamar tidak memiliki colokan listrik. Yang menyapa saya adalah pasangan dari Perancis, mereka sangat baik hati. Tetapi ntah kenapa saya menjadi ragu, ahhhh sifat curiga dan negartif thinking saya seperti diuji ketika harus melakukan sebuah perjalanan. Saya buang jauh-jauh sifat jelek tersebut. Sempat terlintas dipikiran saya, bagaimana jika handphone saya dicuri mereka? Masya allah… sungguh pikiran buruk yang tidak baik untuk ditiru. Disinilah salah satu pelajaran dari perjalanan saya ambil. Belajar untuk percaya kepada orang lain. Belajar untuk memahami didunia ini kau tidak pernah hidup sendiri, kau tidak bisa hidup sendiri dan kau akan memerlukan pertolongan orang lain. Saling menolong, meskipun terkadang kau tidak saling mengenal. Saling percaya dan tetap waspada secara logis.

Kamar tempat menginap pasangan muda teman baru saya ini berisi 12 orang. Seperti rumah saja, karena menurut cerita pasangan ini yang beberapa teman kamar mereka tinggal dalam waktu lebih dari seminggu, sehingga saya melihat banyak gantungan tali di atas tempat tidur mereka berisi jemuran pakaian dalam. Tidak terbayang, tempat tidur bertingkat yang tidak begitu tinggi, diberi seutas tali untuk menjemur. Pasti sangat crowded tidur dalam keadaan seperti itu, belum lagi kamar ini tidak menggunakan pendingin ruangan, tercium bau menyengat lembab dan apek. Sambil mengobrol tentang negara saya, mereka tidak tahu mengenai Indonesia, mereka hanya tahu Bali. Saya hanya mengelus dada, kasian amat yah negara saya ini. Tetapi tidak apa-apa, Saya selalu merasa bahwa saya adalah identitas bangsa saya, kemana-mana saya akan mempromosikan negara saya. Pasangan ini juga baru pertama kali menginjakan kaki ke benua Asia, tidak begitu mengetahui tentang negara-negara di Asia, hanya berjalan saja dan berhenti ke tempat yang mereka suka. Mereka kaget ketika saya menunjukan beberapa tempat melalui handphone saya tentang keindahan Indonesia. Wonderfull Indonesia… mereka takjub. Berkali-kali berdecak kagum. Dan mereka memutuskan akan mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. Hmmm saya merasa bangga juga, karena itu terkadang saya berdebat dengan beberapa teman. Mereka sering menyindir saya, mereka bilang saya tidak mencintai Indonesia karena lebih memilih berjalan-jalan ke negara orang lain. Saya mencoba mejelaskan, ketika saya berada diluar negri saya pun membawa idnetitas negara saya, saya orang Indonesia dan sering kali beberapa wisatawan yang menyapa saya dan bertanya dari mana saya berasal ,yang awalnya tidak mengetahui Indonesia menjadi mengetahui dan tertarik untuk mengunjungi Indonesia. Saya cinta Indonesia tetapi hambatan saya mengunjungi wisata tanah air adalah tidak cukupnya tabungan saya karena biaya yang mahal. Ahh sudahlah, semoga yang saya lakuakn bermanfaat bagi negara saya. Akhirnya saya pamit untuk kembali ke kamar saya dan mengucapkan terimakasih pada teman baru saya atas kebaikan hati mereka.

Sampai malam teman sekamar saya satu-satu bermunculan, kami pun saling bercakap-cakap, terakhir adalah teman dari australia yang tidur tepat dibawah saya. Dan pengalaman baru  saya terjadi disini, yaitu mengenai alas kaki atau sepatu yang kami gunakan. Pada kenyataannya sepatu itu dimasukan ke kamar dan saya tidak tahan dengan alas kaki teman sekamar saya, baunya minta ampun tercium sampai ke tempat tidur saya yang tepat berada diatasnya. Akhirnya sarung saya berperan penting untuk menutupi muka saya ketika tidur. Lumayan sebagi pengusir bau. He he he… teman sekamar saya yang satunya sangat cuek , dia hanya diam saja. Terlihat bahwa dia sedang bermain game di gadget yang dia gunakan. Yah.. bermacam-macam karakter orang menjadi pelajaran saya dikamar ini. Hidup itu penuh warna ya, berupa-rupa macam manusia. Pelajaran penting saya untuk beradaptasi secara cepat dengan teman-teman baru ini. Dan saya terlelap sambil membawa pelajaran seharian ini, dalam 24 jam begitu banyak ilmu yang diberikan universe , inilah macam-macam hikmah. Kadang yang kita harapkan pun tidak semuanya bisa terjadi wujud menyenangkan. Ilmu ini pun tidak akan pernah kita dapatkan langsung di bangku sekolah, dengan “perjalanan” , semua ilmu langsung dapat saya dapatkan.

Saya bangun keesokan hari dengan keadaan yang bugar. Sungguh nikmat kesehatan dari yang Kuasa sangat hebat. Saya juga dalam keadaan baik-baik saja, teman sekamar saya juga tidak ada yang mengganggu ataupun menjahati saya seperti pikiran awal saya. Barang-barang saya aman di tempatnya. Pelajaran untuk percaya dan positif thingking itu lah yang paling penting. Sungguh didalam sebuah tempat yang bernama hostel mengandung banyak pelajaran hidup dan bermanfaat bagi siapa pun yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: