Disini saya berteduh, dalam sebuah tempat bernama Hostel

22 Oct

Dan sinilah saya, duduk di kursi  sebuah maskapai low cost carrier yang akan membawa saya ke negeri gajah putih atau negeri seribu pagoda.  Lima belas menit lagi pesawat akan mendarat, baru saja pramugari memberitahukan para penumpangnya lewat pengeras suara. Segera saja saya dan suami mengencangkan sabuk pengaman, dan tiba-tiba saja suami saya bertanya kepada saya, dimana kita akan berteduh malam ini?. Saya hanya menjawab singkat, “mas, kita akan menginap di hostel”. Ternyata suami saya melanjutkan pertanyaan kedua, “apa itu hostel?”. Saya menjawab, “lihat aja nanti, pasti akan jadi pengalaman yang tidak terlupakan”.

Ini adalah pertama kalinya saya bepergian keluar negeri secara mandiri alias mencoba menjadi backpacker. Semua hal saya atur sendiri, dipandu oleh sebuah buku panduan hemat keliling Thailand dalam 10 hari milik Ariyanto saya terdorong untuk berani. Tidak pernah saya bayangkan keberanian ini muncul darimana, bahkan suami saya pun tidak punya persiapan apa-apa, karena semua hal mengenai perjalanan ini dipasrahkan kepada saya. Saking takutnya, saya sampai secara pribadi memohon kepada penulis buku panduan perjalanan untuk meminta nomer handphone beliau, guna berjaga-jaga bagi saya jika ada sesuatu hal yang menakutkan di luar negara Indonesia.

Dan pesawat telah mendarat sempurna di Suvarnabhumi International Airport, setiba di bangunan airport, saya mengikuti saja segerombolan orang, hmmmm… sepertinya mereka adalah peserta trip perjalanan. Setelah saya

dipusingkan oleh banyaknya tulisan cacing ( tulisan Thailand yang berbentuk seperti tulisan Jawa ) , saya mengikuti naluri saya saja untuk  percaya diri dan melangkah bergegas seperti rombongan di depan saya, mengkuatirkan diri saya  takut ketinggalan bis airport menuju pusat kota karena waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Tetapi kenyataannya saya mulai grogi dan kebingungan, sambil berjalan mencari jalan keluar, sambil memegang dan membuka buka panduan, setelah celingak celinguk  saya memutuskan untuk menghampiri seseorang. Dia terlihat seperti petugas yang bekerja di airport, dan sepertinya saya yakin bertanya ke tempat yang tepat karena terlihat tulisan tourist information. Saya mulai meminta pertolongan dengan bertanya arah menuju bis airport yang akan mengantar saya ke daerah Khaosan Road ,dan tentu saja saya memilih daerah ini setelah mengumpulkan banyak informasi bahwa ditempat ini banyak tersedia hostel dengan pilihan harga bermacam-macam serta sangat bersahabat dengan kantong backpacker. Tapi oh tetapi petugas airport tersebut malah menyarankan saya untuk mencari hotel disekitar airport dengan pertimbangan hari sudah sangat malam dan riskan untuk berpergian ke daerah yang tidak dikenal. Bahkan petugas tersebut membantu saya menghitungkan biayanya dengan menggunakan kalkulator. Tentu saja saya menjawab, no, thank sir. Perkataan petugas tersebut sebenarnya membuat saya agak kuatir mengingat beberapa pesan yang saya baca di buku panduan dan internet bahwa harus berhati-hati dimanapun kita berada, karena kejahatan dan penipuan itu pasti adanya. Akhirnya dia menawarkan  pilihan kedua untuk menyuruh saya menggunakan taksi menuju daerah siam, dan menunjukan beberapa hotel yang tertera di peta kota Bangkok serta membantu memperlihatkan harganya. Lagi dan lagi saya menggelengkan kepala, karena yang tertera adalah angka-angka ratusan ribu rupiah mendekati satu-juta-rupiah untuk semalam menginap, lagipula saya pikir-pikir tentang hotel yang direkomendasikan petugas tersebut adalah hotel-hotel yang tertera di peta kota yang telah men-sponsori pembuatan dan pengadaan peta kota gratis yang disebar di sekitaran airport bagi petunjuk turis. Ehm.. ini menurut saya sih… karena yang muncul adalah hotel-hotel ber-bintang-bintang, dan ketika saya berusaha mencari letak  hostel tidak ada satupun tertera pada peta. Akhir kata yang saya katakan kepada petugas adalah saya memutuskan untuk menggunakan bis airport menuju Khaosan Road karena saya mencari hostel untuk tempat yang akan saya tinggali selama di Bangkok.

Akhirnya saya menemukan lokasi tempat menunggu bis airport di lantai bawah. Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit bersama bis airport yang sangat nyaman, sampailah saya di Khaosan road. Langsung saja saya dikerubungin orang-orang yang hampir-seperti-memaksa saya untuk menawarkan jasanya untuk mengantar ke tempat penginapan, sepertinya mereka calo hostel maupun penginapan disekitaran daerah Khaosan road. Tips dari saya, Pede saja, anggap sudah tahu hostel mana yang akan dituju meskipun sebenarnya kita tidak tahu,pasang deh muka yakin-tahu. Sebenarnya saya ini tipe buta arah ditambah lagi hari sudah gelap maka radar pencarian lokasi pun ikut tidak berfuungsi dengan baik. Saya berusaha mencari hostel yang telah saya catat sebagai pilihan tempat menginap. Tips dari saya untuk cari-mencari pilihan hostel adalah browsing di internet sebanyak-banyaknya informasi tempat meginap plus petunjuk arah menuju alamat penginapan.

Dan benar saja, banyak sekali hostel didaerah Khaosan Road ini, bermacam-macam pilihannya. Benarlah rekomendasi teman-teman yang saya temukan di internet tentang tempat menginap di Bangkok  yang selalu disebutkan dalam pencarian kata kunci di internet adalah Khaosan Road. Karena banyaknya hostel dan pilihan, sebaiknya kita rajin membuka buku panduan, mencari informasi di internet dan yang tak kalah pentingnya, bergabung dengan banyak komunitas pejalan mandiri, komunitas jalan-jalan maupun komunitas backpacker.   Karena saya telah merasakan banyak manfaat dari keikutsertaan saya menjadi bagian komunitas ini. Meskipun saya belum pernah keluar negeri dan ini pertama kalinya menginjakan kaki diluar negeri, saya memiliki bekal catatan rencana perjalanan plus rencana B jika rencana A gagal , yang mana rangkuman catatan ini berasal dari hasil sharing pejalan lain.

Baiklah, saya mulai menuju ke salah satu hostel yang saya temukan informasinya dari buku panduan jalan-jalan, dan saya bersyukur ternyata tidak jauh tempatnya dari bis airport tadi berhenti. Tempatnya sangat menyempil ,terselip di deretan toko-toko. Bahkan untuk menuju resepsionis, saya harus menuju lantai 2 dan jangan pernah membayangkan semua hostel menggunakan lift, karena saat ini saya naik tangga. Ternyata di hostel ini penuh. Tetapi tadi saya sempat melihat price list dan salah satunya menyebutkan adanya dormitory dengan beberapa tempat tidur tingkat, wahh kebayang seperti asrama ya. Ada juga tertulis share bathroom. Gak kebayang juga mandi bersama. Ups mungkin bukan itu maksudnya yah, maksudnya kamar mandi yang ditempatkan diluar kamar dan digunakan bersama-sama. Jujur ini pertama kalinya saya memasuki hostel. Kalau terbayang penampakan hostel melalui buku panduan yang saya baca. Hostel seperti hotel tetapi dengan fasilitas yang tidak semewah hotel dan tentu saja harganya sangat bersahabat.

Setelah hostel pertama yang saya masuki penuh, saya melanjutkan pencarian. Ini lah dia suka-duka tidak memesan hostel terlebih dahulu, tetapi saat dahulu sebelum berangkat saya memutuskan untuk  tidak memesan hostel karena takut pilihan saya tidak sesuai harapan penglihatan saya di internet. Hmmmm…. tapi sebenarnya kan kita bisa membaca rekomendasi orang lain yang telah menginap. Tetapi saya tetap keras kepala untuk ingin mencari sendiri hostel yang sesuai yang saya inginkan, toh ini pertama kalinya saya benar-benar merasakan pengalaman berpetualang yang sesungguhnya. Apalagi sifat keras kepala saya ini didukung kepastian dari beberapa teman, jangan terlalu kuatir tentang penginapan karena begitu banyaknya pilihan hostel di Khaosan Road.

Selama perjalanan mencari hostel, bukan pencarian yang mudah. Karena kebanyakan hostel memanfaatkan lahan yang seminimal mungkin. Maksud saya biasanya mereka berada di lantai 2 restoran atau pun toko. Dan karena banyak gang atau jalan kecil sempit yang menyempit di sekitaran daerah Khaosan Road, disitulah terkadang hostel berada. Energi yang saya keluarkan lumayan banyak, hari sudah semakin larut. Akhirnya setelah menimang harga sampailah saya pada satu tempat yang meskipun terletak di lantai 4 tetapi fasilitas yang ditawarkan adalah kamar berisi dua orang atau lebih disebut privat tetapi menggunakan kamar mandi bersama plus air panas untuk minuman. Ini penting bagi saya, karena saya mudah lapar dan tentu saja air panas berguna untuk membuat mie instan dalam cup serta minuman hangat lainnya.  Saat itu saya hanya berfikir, biarlah malam ini saya menikmati hostel ini, besok kami akan pindah lagi. Karena saya membutuhkan kamar lain yang berisi tiga orang, sebab ibu saya akan bergabung dengan saya keesokan harinya.

Pagi-pagi saya telah terbangun untuk menunaikan ibadah subuh dan ternyata dikamar mandi sudah ramai saja beberapa perempuan sedang mencuci pakaian di wastafel . Wahhh , sungguh pemandangan yang baru pertama kali saya saksikan. Komunikasi pun terjalin dalam sebuah kamar mandi hostel. Hmmm mungkin lebih tepatnya tempat mandi karena dalam sebuah ruangan ada sekitar 6 kamar, 3 kamar diperuntukan mandi dilengkapi shower dan yang 3 kamar untuk keperluan membuang hajat alias toilet. Di depan kamar ini tersedia beberapa wastafel dan disinilah beberapa perempuan mencuci baju. Dimulai dengan sapaan Good morning dan senyuman serta dilanjutkan dengan percakapan sederhana sambil sikat gigi di wastafel. Ternyata perempuan yang kebanyakan wisatawan Eropa ini akan tinggal agak lama di Thailand dan karena mereka tidak membawa baju banyak jadinya cuci pakai.

Saya melanjutkan hari dengan memulai pencarian hostel lainnya. Berharap mendapatkan kamar dengan triple bed dan harga murah. Hari sangat cerah dan terang, terlihat semua yang tak terlihat malam tadi. Beberapa hostel di tempat terpencil di gang saya masuki dan banyak sekali hostel disini. Tips dari saya, sebaiknya tiba disuatu tempat pada siang hari ketika langit masih cerah. Kalau tidak sangat terpaksa harus sampai malam di suatu negara lain yang belum kita kenali, jangan lakukan itu. Hasil menelusuri gang saya menemukan sebuah guesthouse dengan nama Kawin Place. Agak ragu juga untuk memasuki tempat ini, saya menemukannya di ujung sebuah gang kecil. Ragu karena kok namanya kawin ya? Ntar untuk kawin lagi. He he he he… kalau ingat itu jadi senyum-senyum sendiri, Ternyata tempatnya sangat bersih, bahkan saya berhasil menawar harga kamar yang akan saya tempati. Kamar yang saya pilih dengan fasilitas yang hampir sama dengan yang sebelumnya, tidak ada sarapan, kamar mandi bersama dan ada colokan listrik dikamar untuk saya membuat air panas karena disini tidak disediakan air panas. Tetapi saya diuntungkan posisi kamar yang berada di lantai 2 saja. Tidak jauh-jauh menuju lantai 4 seperti hostel saya sebelumnya.

kawin-place-guesthouse

kawin-place-guesthouse khaosan Road

Mengenai berteduh dan stay di hostel, saya merasa nyaman saja untuk menginap berhari-hari, karena amat-sangat nyaman dengan dompet saya juga. Tinggal disesuaikan saja dengan budget yang telah kita rencanakan sebelumnya. Kita pun dapat memilih bermacam-macam hostel dengan fasilitasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: