Kenangan Travelling Terakhir Bersama Papa (Part-1 Cilacap)

9 Feb

Tetiba saja malam ini saya ingin menulis tentang dua perjalanan terakhir saya dengan almarhum papa. Mungkin malam ini saya rindu pada papa sangat teramat dalamnya. Papa saya meninggal karena sakit jantung koroner parah yang menurut saya sudah terlambat bagi kami, keluarga mengetahuinya. ketika diperiksa keadaan jantung, sudah ada penghambatan di pembuluh darah sebesar  80%. Tapi saat itu kami berserah pada Allah. Kenyataan ini kami ketahui pada agustus -september 2010.

Perjalanan terakhir yang saya lakukan bersama beliau dan keluarga adalah februari 2010. Orang tua saya bertempat tinggal di Medan. Dan saya sejak kuliah (2002) hingga saat ini (2013) berdomisili di surabaya. Suatu ketika Papa saya yang telah pensiun dari salah satu Perusahaan Swasta Industri Pupuk milik Asing di Aceh, memutuskan untuk  mengembangkan usaha di Cilacap. Sehingga terbanglah papa saya bersama mama dan adik menuju cilacap. Saat itu tanggal 12 Februari 2010, Mama saya merayakan hari lahirnya, saya datang ke cilacap untuk berlibur dan membuat sebuah surprise kecil, karna saat itu saya berbohong bahwa tidak bisa ikut bergabung bersama keluarga di Cilacap, tentu saja mama saya sedih. Tidak bisa berkumpul bersama saya. Yah… dan kejutan kedatangan saya pun berhasil, mama saya menangis kaget dan senang.

Maka dimulailah perjalanan saya di Cilacap. Setelah melewati waktu sekitar 8 jam dengan kereta Argo Wilis tujuan Surabaya-Bandung. Saya berhenti di stasiun Kroya. Kebetulan saya sampai di Kroya siang sekitar jam 14.00, Kroya-kota cilacap ditempuh dalam waktu 30-45 menit perjalanan lancar.Karena tidak ada kereta eksekutif tujuan Cilacap dari Surabaya. Tetapi kita bisa menumpang kereta jurusan Bandung (jalur selatan). Jika ingin langsung menuju cilacap dengan kereta kita bisa menggunakan kereta Legowo ekonomi (sekitar Rp 35.000 ) dengan waktu tempuh sekitar 10-12 jam perjalanan. setelah hampir sampai purwokerto gerbong dipisah menjadi dua. Ada yang menuju cilacap dan ada yang menuju purwokerto. Alternatif lain perjalanan menuju cilacap dari surabaya adalah  perjalanan menuju jogja dengan kereta (ekonomi Rp 35.000, eksekutif Rp 150.000-250.000) kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bis menuju cilacap (Ac sekitar Rp 50.000 ).

Setelah kami berkumpul maka dimulailah rencana perjalanan di cilacap, bagi saya menikmati sunset dan sunrise di cilacap adalah wajib Karena kota cilacap berada di pinggir pantai yang di lindungi oleh sebuah pulau bernama Nusa Kambangan. Pantai teluk penyu adalah pantai yang tepat berada di pinggir kota dengan pemandangan langsung pulau Nusa Kambangan. Tentu saja dipantai ini banyak bersandar perahu ikan milik nelayan. Tapi bagi saya yang bertempat tinggal di Surabaya, saya sangat menikmati menghirup udara pantai, meski ini bukanlah pantai yang cantik dan perawan. Sungguh suasana di kota ini membuat rindu terhadap kota Lhokseumawe, Aceh Utara tempat saya dilahirkan dan dibesarkan begitu besar. Kota yang sangat mirip dengan Lhokseumawe, dapat saya temui di Cilacap adalah pantai dan kawasan industri.

Putar-putar menikmati kota cilacap adalah pasti. Seperti kebanyakan kota di Pulau Jawa, di kota ini juga terdapat alun alun, sebuah taman kota yang di tengahnya ada seperti taman dan dikelilingi mesjid dan beberapa pusat keramaian dan gedung pemerintahan. Ke pasar tradisional juga pasti, karena saya tidak pernah melewatkan yang satu ini, menikmati kuliner di pasar tradisional dan tiap hari tidak pernah bosan makan tempe medoan.

Hari berikutnya, bersama papa dan keluarga saya menyebrang ke pesisir Pulau Nusa Kambangan. Kali ini kami memutuskan untuk tidak berpelesir mengunjungi penjara dan beberapa pesisir pantai didalam Pulau Nusa Kambangan. Hal itu sudah pernah saya lakukan di tahun 2003-2004 lain kali akan saya tulis tentang trip ke Nusa Kambangan dan banyak bertemu narapidana yang bebas berjualan batu akik hasil ketrampilan saat mereka hidup di penjara, termasuk perjalanan saya mengunjungi beberapa bagian penjara, gua ratu yang banyak terdapat stalakit-stalakmit dan pantai di bagian pulau. Konon katanya ombak disini sangat ganas, jadi kemungkinan sangat kecil jika ada narapidana yang lolos, nyemplung kelautan untuk melarikan diri dan berenang ke tepian. Dan berkat adanya Pulau Nusa Kambangan ini, kota Cilacap terlindung dari ancaman ombak besar yang ganas.

23372_3688943157232_980698172_n

Menyebrang menuju Pantai Pasir Putih sebelah sisi Pulau Nusa Kambangan

Baiklah, kali ini kami dari pesisir pantai pinggir kota Cilacap, Pantai Teluk Penyu, menyebrang menggunakan perahu nelayan setempat, Menuju pantai pasir putih yang ada di sisi  Pulau Nusa Kambangan. Hasil tawar menawar berhasil kami dapatkan di harga Rp 80.000 per perahu untuk pulang-pergi mengantarkan kami ke pesisir pantai. Sebelum berangkat kami membawa bekal makanan, karena disana tidak ada yang berjualan makanan. Sampailah sudah kami disini, hanya menempuh perjalanan sekitar 10-15 menit. Ohhh… ternyata disini ada pondokan, ada warga pendatang yang inisiatif membangun sebuah pondokan dan warung berjualan minuman tapi mereka tidak tinggal disini. Kemudian kami membongkar bekal makanan,karena perut saya sudah keroncongan lapar. Selesai makan kami nyebur ke air laut yang bening, karena pengunjung disini hanya kami saja, maka serasa milik pribadi. Tetapi ternyata bukan hanya kami saja, ada beberapa pengunjung lain hanya saja mereka sedang trekking diatas. Saya pun penasaran untuk mencari informasi lebih lanjut tentang ada apa diatas. Setelah bertanya-tanya ternyata diatas sana, trekking menuju naikan ke atas bagian pulau yang meninggi dan menanjak kita akan menemukan sebuah benteng. Tepatnya reruntuhan menyerupai benteng kecil dan terdapat pesisir sisi pantai yang punya pasir lebih putih dari yang saya datangi barusan ini. Wow… akhirnya saya, papa dan adik saya memutuskan akan memulai perjalanan trekking kami menembus hutan pulau untuk menemukan benteng dan pantai perawan pasir putih lainnya. Berbekal perut kenyang setelah makan dan minuman serta sebatang kayu panjang untuk bekal saya melewati tanjakan yang menanjak kami memulainya….

13022010345

Trekking hutan untuk menemukan reruntuhan benteng dan pantai pasir putih lainnya

Sebelum memasuki area hutan, ternyata ada sebuah pos retribusi dan kami diharuskan untuk membayar sejumlah uang kalau tidak salah ingat sebesar Rp 5.000.

Di tengah perjalanan menembus hutan saya sangat menikmati suara alam, berbagai kicauan burung dan sahutan serangga, harum batang pepohonan dan hijaunya warna daun pepohonan menambah segar. Di perjalanan kami juga ber papasan dengan rombongan lainnya, dan saling memberi semangat dengan bertanya, berapa jauh lagi? ohh sebentar lagi kok mbak. semangat. semangat. Padahal aslinya terkadang masih jauh jarak yang kami tempuh -___-!

Sempat beberapa kali papa berhenti sejenak memegang dadanya, ngos ngos-an mengatur nafas, dan bodohnya saya tidak paham sama sekali kalau papa sedikit sesak. Saya hanya berrpikir, saya juga kecapekan karena trekking yang kami lakukan agak sedikit berat dan wajar saja jika kami ngos ngos-an. Padahal jika saja saya mengetahui, penyumbatan yang sudah sangat parah telah terjadi di pembuluh darah koroner jantung papa menyebabkan aliran oksigen dalam darah sangat terhambat jika melakukan pekerjaan yang teramat berat, membuat kerja jantung juga sangat berat. Dan trekking kali ini adalah salah satu yang sangat berat untuk dilakukan jantung sungguh saya tidak mengetahuinya.

Akhirnya, reruntuhan benteng  itu berhasil kami temukan. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, benteng rumahan. Ini seperti benteng pos penjagaan, katanya juga ada meriam. Sayang foto-foto yang saya miliki ntah dimana, ahhh banyak foto yang saya tidak ketahui keberadaannya. Dua foto yang saya miliki ini terdapat di handphone saya. Setelah puas melihat-lihat benteng kami melanjutkan perjalanan menuju pantai pasir putih.

Perjalanan yang kami lalui masih berat malah ini sudah ada sedikit tanah yang seperti pasir, berjalannya pun menuju arah ke bawah menurun. Wah saya tidak terbayang nanti pulangnya akan naik dan ngos-ngos-an. Akhirnya terlihatlah birunya air dan putihnya pasir. Pantai ini ternyata Seperti ceruk di pinggir lautan, pantai yang memiliki pasir sangat halus. Benar-benar pemandangan indah. Sayang fotonya tidak saya miliki. Lain kali akan saya foto lagi, tapi yang pasti sudah tidak ada papa lagi yang menemani saya melakukan perjalaanan ini. Tidak ada lagi ketawa khas papa yang terdengar sepanjang perjalanan nanti. Ntah akan sanggup atau tidak saya kesini lagi.mungkin tidak sanggup, karna yang ada hanya airmata mengenang tempat ini. Papa..sungguh aku rindu..

Dan inilah part-1 travelling bersama papa. Part-2 akan saya isi travelling ke Danau Toba bersama papa di bulan september 2009.

2 Responses to “Kenangan Travelling Terakhir Bersama Papa (Part-1 Cilacap)”

  1. Vicky Kurniawan February 10, 2013 at 6:02 am #

    Jadi kenangan yang tidak terlupakan ya…

  2. mediatamacomputer April 7, 2015 at 5:34 am #

    Begitulan hidup, tiada yang abadi, “Sesungguhnya usia manusia bukan diukur dari hari, bulan dan waktu, namun dihitung dari apa yang telah dilakukannya kepada orang lain”

    Numpang copy tentang: Surga kecil Aceh, kebetulan saya asli dari sana yang sekarang terdampat di kota tahu Sumedang bersama Istri dan anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: